Juli 03, 2016

Kuil Shinto Tagata,Kuil Kelamin Pria

Jika membahas kepercayaan masyarakat Jepang, tentu kita tidak asing dengan kuil-kuil disana. Ya, bahkan sebagian kecil masyarakat Jepang tidak percaya bahwa adanya Tuhan seperti halnya masyarakat Indonesia. Masyarakat Jepang lebih percaya
terhadap dewa-dewa yang ada di dalam sebuah benda, seperti pohon yang sangat besar, batu yang sangat besar, dan lain-lain, seolah memiliki suatu kekuatan yang besar. Masyarakat Jepang juga menyediakan kuil-kuil yang dianggap sebagai rumah Dewa (神様).

Salah satu contohnya adalah Kuil Shinto Tagata yang berada di kota Komaki, sebelah utara Nagoya. Jika mengunjungi kuil ini, siap-siap untuk terkejut ya, karena semua properti dalam area kuil ini berbentuk alat kelamin laki-laki.

Mulai dari patung raksasa yang biasa diarak satu tahun sekali, genta, pagar, hingga hiasan semuanya berbentuk penis yang terbuat dari batu.

Kuil Tagata sering dipakai untuk shichi go san, yakni acara pemberkatan anak umur 7, 5, dan 3 tahun. Mereka datang bersama keluarga untuk mendapatkan pemberkatan kesehatan lahir dan batin. Mereka sangat lucu saat memakai kimono dan berjalan untuk siap diberkati. Benar benar bikin tersenyum.

Anak-anak ini tidak terheran-heran sama sekali saat melihat patung-patung itu. Reaksi mereka biasa saja melihat patung penis sepanjang 4 meter dengan diameter 50 cm. Sesudah melempar dan membunyikan genta, mereka menangkupkan telapak tangan dan menundukkan kepala beberapa menit.

Pengunjung kuil ini kebanyakan berdoa dan memohon untuk mendapatkan sesuatu yang besar di luar diri, untuk menjadi bahagia. Dan mereka membutuhkan media untuk menyalurkan harapannya, rasa syukurnya, dan rasa bahagianya.

Ada wanita yang mengelus perut, mungkin berharap hamil. Sepasang ayah dan anak menundukkan kepala, mungkin berdoa. Ada juga ibu muda yang mengajak bayinya menjulurkan tangannya ke arah patung. Raut muka mereka berbahagia

Di sini, pengunjung bebas untuk mengharapkan apapun, seperti salah satu harapan di samping ini. Saya tersenyum membaca macam-macam harapan yang unik.

Apakah kalian membayangkan bagaimana jika ada tempat seperti ini di Indonesia? Mungkin akan dianggap sebagai hal yang tabu bagi masyarakat kita. Semua kembali pada penilaian kita masing-masing. Kita hanya bisa saling menghormati pada nilai yang mereka miliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar