Juli 11, 2016

Tanabata Matsuri (七夕 まつり)

Tanabata Matsuri (Festival Bintang) merupakan salah satu tradisi kebudayaan Jepang yang diselenggarakan setiap tanggal 7 Juli. Pada perayaan tanabata, orang Jepang memiliki tradisi untuk menuliskan harapan-harapan pada secarik kertas kecil berwarna-warni, kemudian menggantungkannya di batang pohon bambu yang diberi nama 'Sasa'. Tradisi menggantungkan kertas harapan
di pohon bambu 'Sasa' ini, berakhir ketika Obon Matsuri (Festival Arwah) diselenggarakan yaitu sekitar tanggal 13-15 Agustus.

Tanabata Matsuri ini diambil dari saah satu cerita legenda tua China. Diceritakan pada suatu masa hidup seorang Dewa Bintang dengan seorang putri cantik yang bernama 'Orihime' yang dikenal sebagai bintang Vega. Setiap hari 'Orihime' bekerja merajut pakaian yang disebut 'Tanahata' untuk dipakai kepada sang Dewa. hal ini membuat sang Dewa Bintang merasa cemas karena melihat putrinya yang selalu bekerja keras merajut pakaian tiada henti. Untuk menghibur hati sang putri 'Orihime, dewa memutuskan untuk mencarikannya teman. Akhirnya dewa memperkenalkan Orihime dengan seorang pemuda bernama Kengyuu (Penggembala Sapi) yang dikenal sebagai bintang Altair.Kengyuu itu seorang pemuda yang tiap hari bekerja sebagai penggembala sapi. Ia terkenal rajin dan ulet.

Setelah Orihime berkenalan dengan Kengyuu, keduanya merasa jatuh hati. Setiap hari mereka berusaha bertemu sehingga melupakan masing-masing pekerjaannya. Orihime melupakan pekerjaannya merajut baju, sehingga sang dewa tidak memiliki baju 'Tanahata' untuk dipakainya. Sedangkan Kengyuu melupakan sapi-sapinya sehingga sapi-sapi tersebut banyak yang sakit. Melihat hal ini dewa bintang sangat marah. Akhirnya dewa memutuskan untuk menjauhkan Orihime dari Kengyuu. Sang Dewa membawa Orihime ke sebuah tempat yang dihalangi oleh sungai besar bernama Ama no Kawa (Sungai Surga - The Milky Way) agar tidak bisa bertemu dengan Kengyuu. Dipisahkan dari sang kekasih membuat Orihime bersedih dan menangis setiap hari. Sang Dewa yang merasa kasihan melihat Orihime, akhirnya mengizikankan Orihime untuk bertemu dengan Kengyuu satu tahun sekali pada tanggal 7 Juli yang dipercaya sebagai tanggal keberuntungan. Tetapi jika hujan turun pada tanggal tersebut air sungai Ama No Kawa akan meluap, sehingga sepasang kekasih tersebut tidak bisa bertemu. Agar hujan tidak turun pada tanggal yang telah dijanjikan, tanggal 6 Juli mereka berdoa kepada dewa bintang dengan menuliskan sajak berupa harapan diatas secarik kertas warna warni yang disebut 'Tanzaku' kemudian menggantungkannya di batang pohon bambu.

Berdasarkan cerita ini, membuat orang Jepang selalu merayakan tradisi Tanabata Matsuri (Festival Bintang) setiap tanggal 7 Juli. Perayaan ini mulai dikenal di Jepang sejak zaman Edo (1603-1867). Pada mulanya mereka hanya ikut mendoakaan agar pada hari itu cuaca cerah sehingga Orihime dan Kengyuu bisa bertemu. Tetapi seiring berjalannya waktu, selain mendoakan agar Orihime dan Kengyuu dapat bertemu, saat ini orang Jepang terbiasa mengikuti kebiasaan sepasang kekasih tersebut, menuliskan harapan-harapan mereka diatas secarik kertas berwarna-warni dan menggantungkannya di batang pohon bambu agar doa mereka terkabul. Harapan-harapan itu dituliskan dalam secarik kertas berwarna-warni untuk mengibaratkan bintang yang berwarna-warni yaitu Vega dan Altair yang berada di galaksi bima sakti. Penulisan dan pengggantungan secarik kertas harapan ini berakhir ketika 'Obon Matsuri' dimulai. Pohon bambu yang sudah digantungi banyak kertas harapan akan dialirkan ke sungai sebagai pertanda agar kemalangan atau nasib buruk ikut hanyut terbawa oleh air dan doa segera terkabul.

Mohon maaf atas hiatusnya kami selama beberapa hari yang lalu. Dikarenakan masih suasana Hari Raya Idul Fitri, kami juga masih melaksanakannya. Saya selaku penulis mohon maaf kepada para pengunjung yang menunggu postingan baru. Mungkin kedepannya akan kami usahakan posting harian seperti biasanya. Terima kasih sudah mengunjungi blog kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar